trima kasih sudah mampir di blog saya dan jangan bosan mampir yaaa

Minggu, 22 Juni 2014

Metode Pembelajaran Bahasa Arab di Lembaga Formal Dan Non Formal



A.    Pengertian Metode Pembelajaran
Metode berasal dari Bahasa yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.[1]
Pembelajaran pada hakikatnya berasal dari kata “belajar” yang dapat diartikan, sebagai upaya mendapatkan pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan sikap yang dilakukan dengan mendayakan seluruh potensi fisiologis dan psikologis, jasmani dan rohani manusia dengan bersumber kepada  bahan informasi baik yang berupa manusia, bahan bacaan, bahan informasi, alam jagad raya dan lain sebagainya. Selain itu, belajar juga dapat berarti upaya untuk mendapatkan pewarisan kebudayaan dan nilai-nilai hidup dari masyarakat yang dilakukan secara terencana, sistematik, dan berkelanjutan.[2]

Teknik Pengumpulan Data Non Tes



1.    Peforment Assesment
Performent assessment atau sering diartikan sebagai penilaian kinerja. Menurut Trepeces (1999) mengartikan bahwa performent assesment adalah berbagai macam tugas dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks. Artinya, penilaian kinerja mangacu pada kemampuan siswa baik psikomotor, afektif, maupun kognitif.[1]
Dengan demikian performent assessment adalah suatu bentuk penilaian dengan memberikan tugas atau aktivitas tertentu yang memiliki makna pendidikan kepada pesera didik.
Dalam suatu teknik pengumpulan data setiap teknik selalu memiliki kelebihan dan kelemahannya. Berikut kelebihan dari penilaian kinerja:

Keinovatifan Guru



A.    Konsep Keinovatifan guru

Menurut Ibrahim, (1988 : 51) inovasi pendidikan ialah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah pendidikan. Dengan demikian inovasi diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan/pembelajaran, ini berarti bahwa inovasi apapun yang tidak dapat meningkatkan kualitas pendidikan/pembelajaran tidak patut untuk diadopsi, dan dalam konteks ini peran guru akan sangat menentukan dalam adopsi inovasi pada proses pendidikan/pembelajaran
Menurut Rogers (1995), keinovatifan adalah tingkat yang berkenaan dengan seberapa lama seseorang/kelompok/sistem sosial lebih dahulu dalam mengadopsi ide-ide baru dari konsep-konsep difusi inovasi dibandingkan dengan yang lain.[1] Sedangkan keinovatifan guru adalah bagaimana cara seorang guru tersebut menciptakan hal-hal baru dalam proses pembelajaran, baik itu metode baru ataupun strategi baru.

Minggu, 15 Juni 2014

PENGEMBANGAN KOMPONEN KURIKULUM

A.    Komponen-komponen Kurikulum
Zeis memandang bahwa pengembangan kurikulum harus dimulai dengan menentukan landasan atau azas-azas pengembangannya sebagai fondasinya, selanjutnya mengembangkan komponen-komponen kurikulum. Pengembangan komponen-komponen inilah yang kemudian membentuk sistem kurikulum. Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan. Kurikulum merupakan suatu sistem yang memiliki komponen-komponen tertentu.
Bagan diatas ini menggambarkan bahwa system kurikulum terbentuk oleh 4 komponen yaitu, komponen tujuan, isi kurikulum, metode atau strategi pencapaian tujuan, dan komponen evaluasi. Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum erat hubungannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan. Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum itu menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran yang diberikan maupun aktifitas dan kegiatan siswa.

Sabtu, 14 Juni 2014

PERUBAHAN BAHASA


A.  Pengertian Perubahan Bahasa[1]
Sebelum membahasa lebih lanjut lebih dulu kita mengetahui tentang apa itu perubahan dan apa itu bahasa. Perubahan merupakan menurut KBBI yaitu peralihan atau pertutakarn. Dapat diartikan perubahan merupakan suatu peralihan atau pertukaran dari suatu yang terlebih dahulu. Sedangkan bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau bisa dikatakan  dengan simbol drai suattu daerah. Jadi perubahan bahasa adalah suatu pengalihan dari bahasa sebelumnya ke bahasa yang baru sesuai dengan perkembangan zaman. Meski tidak tahu apan perubahan itu terjadi tapi banyak bukti yang ada bahwa bahasa telah mengalami perubahan. Buktinya seperti ada pada bahasa inggris. Berikut contoh perubahan bahasa pada bahasa inggris.
1.      Nu sculon herian heofon-rices weard
(Now we must praise heaven-kingdom’s Guardian)

Jumat, 13 Juni 2014

KONSEP DASAR KURIKULUM



A.    Konsep Dasar Kurikulum
Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya.[1] Kurikulum merupakan program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Dengan adanya program pendidikan tersebut, siswa melakukan berbagai kegiatan, sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai denga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.[2] Dengan kata lain, dengan program kurikuler tersebut, sekolah / lembaga pendidikikan menyediakan lingkungan pendidikan bagi siwa untuk berkembang. Pengembanagn kurikulum merupakan bagian inti dalam penyelenggaraan pendidikan dan oleh karena itu, pengembangan dan pelaksanaanya harus berdasarkan pada asas-asas pembangunan secara makro. Sistem pembangunan pendidikan dan sistem pengembangan kurikulum seyogyanya sesuai dengan asas-asas sebagai berikut :[3]

Pancasila Sebagai Sistem Etika



A.    Pengertian Etika
Secara etimologi “etika” berasal dari bahasa Yunani yaitu “ethos” yang berarti watak, adat ataupun kesusilaan. Jadi etika pada dasarnya dapat diartikan sebagai suatu kesediaan jiwa seseorang untuk senantiasa patuh kepada seperangkat aturan-aturan kesusilaan (Kencana Syafiie, 1993). Dalam konteks filsafat, etika membahas tentang tingkah laku manusia dipandang dari segi baik dan buruk. Etika lebih banyak bersangkut dengan prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubungan dengan tingkah laku manusia (Kattsoff, 1986).
Etika adalah ilmu yang membahas  tentang  bagaimana  dan  mengapa  kita mengikuti suatu ajaran tertentu atau bagaimana kita bersikap dan bertanggung jawab  dengan berbagai ajaran moral. Kedua kelompok etika itu adalah sebagai berikut :[1]