trima kasih sudah mampir di blog saya dan jangan bosan mampir yaaa

Senin, 25 April 2016

PENGUMPULAN DATA NON TES

PENGUMPULAN DATA NON TES
(Performent Asseesment, Analisis Dokumen, Anecdotal Ricord, Check List)

A. Teknik Pengumpulan Data Non Tes
1.    Peforment Assesment
Performent assessment atau sering diartikan sebagai penilaian kinerja. Menurut Trepeces (1999) mengartikan bahwa performent assesment adalah berbagai macam tugas dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks. Artinya, penilaian kinerja mangacu pada kemampuan siswa baik psikomotor, afektif, maupun kognitif.[1]
Dengan demikian performent assessment adalah suatu bentuk penilaian dengan memberikan tugas atau aktivitas tertentu yang memiliki makna pendidikan kepada pesera didik.

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

BERBAGAI MODEL PEMBELAJARAN

Model pembelajaran menurut Dahlan (1990) adalah suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran dan member petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran ataupun setting lainnya. Sejalan dengan Toeti Soekamto dan Udin Saripudin Winataputra (1997) yang menjelaskan bahwa model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan ativitas belajar mengajar.
Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. Berbagai model tersebut, diantaranya:
1.        Model Bermain Peran (Role Playing)
Dikembangkan oleh Fannie Shaftel dan George Shaftel. Yang termasuk ke dalam bentuk model bermain peran adalah sosiodrama dan psikodrama. Joyce & Weil (1992) memaparkan 9 fase pelaksanaan model pembelajaran bermain peran, sebagai berikut:

PERUBAHAN BAHASA

A.  Pengertian Perubahan Bahasa[1]
Sebelum membahasa lebih lanjut lebih dulu kita mengetahui tentang apa itu perubahan dan apa itu bahasa. Perubahan merupakan menurut KBBI yaitu peralihan atau pertutakarn. Dapat diartikan perubahan merupakan suatu peralihan atau pertukaran dari suatu yang terlebih dahulu. Sedangkan bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau bisa dikatakan  dengan simbol drai suattu daerah. Jadi perubahan bahasa adalah suatu pengalihan dari bahasa sebelumnya ke bahasa yang baru sesuai dengan perkembangan zaman. Meski tidak tahu apan perubahan itu terjadi tapi banyak bukti yang ada bahwa bahasa telah mengalami perubahan. Buktinya seperti ada pada bahasa inggris. Berikut contoh perubahan bahasa pada bahasa inggris.
1.      Nu sculon herian heofon-rices weard
(Now we must praise heaven-kingdom’s Guardian)
2.      Metodes meahte and his mod-ge panc
(the creator’s might and his mud-plans)

Kamis, 03 Desember 2015

METODE PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI LEMBAGA FORMAL DAN NON FORMAL

BAB II
                        PEMBAHASAN
A.    Pengertian Metode Pembelajaran
Metode berasal dari Bahasa yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.[1]
Pembelajaran pada hakikatnya berasal dari kata “belajar” yang dapat diartikan, sebagai upaya mendapatkan pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan sikap yang dilakukan dengan mendayakan seluruh potensi fisiologis dan psikologis, jasmani dan rohani manusia dengan bersumber kepada  bahan informasi baik yang berupa manusia, bahan bacaan, bahan informasi, alam jagad raya dan lain sebagainya. Selain itu, belajar juga dapat berarti upaya untuk mendapatkan pewarisan kebudayaan dan nilai-nilai hidup dari masyarakat yang dilakukan secara terencana, sistematik, dan berkelanjutan.[2]
Jadi pembelajaran dapat diartikan sebagai usaha agar dengan kemauannya sendiri seorang dapat belajar, dan menjadikannya sebagai salah satu kebutuhan hidup yang tidak dapat ditinggalkan. Dengan pembalajaran ini akan tercipta keadaan masyarakat belajar (Learning Society).[3]

TEKNIK PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

TEKNIK PEMBELAJARAN BAHASA ARAB 

1
Oval: 1BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Hingga kini, “bahasa” di definisikan dengan beragam pengertian. Sebagian mengatakan bahwa bahasa adalah perkataan-perkataan yang di ucapkan atau ditulis, sebagian lainya mengatakan bahasa sebagai alat komunikasi bagi manusia, dan  ada juga yang mendefinisikan bahasa hanya sebagai kumpulan kata-kata dan kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan.
Adapun Bahasa Arab merupakan bahasa yang mempunyai ciri-ciri kekhususan serta tidak terdapat pada bahasa-bahasa lainnya. Kemudian dari kekhususannya ini menjadikan Bahasa Arab sebuah bahasa yang fleksibel, mempunyai elastisitas yang tinggi, sehingga mampu  menjalankan dan mempertahankan fungsinya sebagai bahasa komunikasi, sarana dalam penyampaian tujuan agama, dan pencatatan berbagai ilmu pengetahuan dengan mudah dan benar.

METODE PEMBELAJARAN ASHWAT

METODE PEMBELAJARAN ASHWAT
                                    




JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2013




KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Kepada bapak dosen H. Moh. Thohir, S. Ag. M.Pd. selaku pembimbing mata kuliah “Tharaiq al-Tadris al-Lughah al-Arabiyyah 2”.
Alhamdulillah makalah ini yang berjudul “Metode Pembelajaran Ashwat” kami susun sebagai pertanggung jawaban tugas mata kuliah  Tharaiq al-Tadris al-Lughah al-Arabiyyah 2” yang telah diberikan oleh dosen mata kuliah  Tharaiq al-Tadris al-Lughah al-Arabiyyah 2”.
Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan, baik dari dosen maupun pembaca.
Akhirnya, semoga makalah ini dapat berguna sebagaimana mestinya. Apabila ada kesalahan dan kekeliruan, kritik dan saran kami terima.




          Surabaya, 14 September  2013


                                                                                                    Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dewasa ini, bahasa sangatlah signifikan dalam kehidupan ini, terutama dalam dunia pendidikan. Hal ini terjadi mengingat bahasa mempunyai peranan penting yakni sebagai media komunikasi. Selain sebagai media komunikasi, bahasa juga sebagai pemersatu bangsa.
Mengingat negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama dan ras. Nah, bahasa pemersatunya yakni bahasa Indonesia. Selain itu perlu kiranya juga bahasa lain yang perlu dipelajari mengingat bahasa di dunia ini bukan hanya bahasa Ibu atau bahasa Indonesia.
 Hakikatnya bahasa yang pertama kali yang dipelajari yakni bahasa Arab. Bahasa Arab sangatlah penting dipelajari dan dipahami. Dalam dunia pendidikan, terutama di dalam sekolah-sekolah Islam seperti di Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah ‘Aliyah sampai di lingkup Universitas Islam yakni UIN, IAIN dan STAIN bahasa Arab dikaji sedemikian dalamnya guna menambah khazanah keilmuan bangsa Indonesia.

TEORI KOMPILASI HUKUM ISLAM

TEORI  KOMPILASI HUKUM ISLAM

Makalah Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Studi Hukum Islam (SHI)”


Disusun oleh:
Nur Risma Amaliyah              (  D72211069  )





PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2014



KATA PENGANTAR

          Syukur Alhamdulillah, kami panjatkan kepada Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan lancar dan baik. Makalah ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Hukum Islam yang berjudul “Teori Kompilasi Hukum Islam”. Tak lupa jua, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi besar kita yakni  Nabi Muhammad SAW. yang telah menunjukkan dan membimbing kita menuju ke jalan yang terang benderang yakni agama islam yang diridloi Allah SWT.
Tidak lupa pula penulis mengucapkan ribuan terima kasih kepada dosen pengampu yakni Bapak Muttaqin Choiri M.HI, yang telah memberi petunjuk mengenai pembuatan makalah ini. Ribuan terima kasih juga penulis ucapkan kepada reka-rekan yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan, baik dari dosen maupun pembaca. Akhirnya, semoga makalah ini dapat berguna sebagaimana mestinya. Apabila ada kesalahan dan kekeliruan, kritik dan saran kami terima.


          Surabaya,  Nopember 2014



Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Hukum Islam adalah hukum yang dibangun berdasarkan pemahaman manusia atas nash al-Qur’an maupun As-Sunnah untuk mengatur kehidupan manusia yang berlaku secara universal - relevan pada setiap zaman (waktu) dan Makan (ruang) manusia. Keuniversalan hukum Islam ini sebagai kelanjutan langsung dari hakekat Islam sebagai agama universal, yakni agama yang substansi-substansi ajaran-Nya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu manusia, melainkan berlaku bagi semua orang Islam di mana pun, kapan pun, dan kebangsaan apapun. Selama ini dalam menyelesaikan perkara-perkara muamalah, hakim pengadilan agama berpedoman kepada kitab fikih yang berasal dari madzhab Syafi'i, yang penggunaannya dapat dipastikan tergantung pada kemampuan hakim-hakim pengadilan agama yang bersangkutan dalam memahami secara utuh dan menyeluruh kitab-kitab fikih tersebut. Dampaknya tidak menutup kemungkinan timbul suatu putusan yang berbeda-beda, walaupun perkara-perkara yang diajukan kepadanya sama. Untuk itu, sudah seyogianya kita memiliki pula hukum materiil berupa hukum islam yang berbentuk kodifikasi yang nantinya dijadikan landasan bersama dalam mengadili, sehingga tidak akan menimbulkan disparitas (perbedaan) putusan lagi.

DORONGAN-DORONGAN DALAM AL-QUR’AN

DORONGAN-DORONGAN DALAM AL-QUR’AN

Di Ajukan untuk Memenuhi Tugas Mata KuliahTafsir Tarbawy






JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2012


KATA PENGANTAR
                 
          Alhamdulillah dengan rahmat dan karunia Allah SWT Kami dapat menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi tugas ujian mata kuliah Tafsir Tarbawy. Kesemuanya itu tidak terlepas dari rohmat dan rahim serta pertolongan-Nya, sehingga semua hambatan dan kendala yang dihadapi dapat diselesaikan dengan lancar. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing umat-Nya ke jalan yang benar dan diridloi-Nya.
Tak lupa pula penulis ucapkan ribuan terimakasih kepada dosen pembimbing M. Afifudin Dimyati yang telah merelakan waktunya kepada penulis untuk membantu dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan makalah ini.

Pandangan Pancasila Sebagai System Etika Dalam PEMILU

Pandangan Pancasila Sebagai System Etika
Dalam PEMILU

Menurut Suseno (1987), Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita harus menggambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral.
Secara etimologis, etika berasal dari bahasa Yunani yaoitu “etos” yang berarti adat istiadat aau kebudayaan. Etika erat kaitannya dengan tata cara hidup, kebiasaan hidup yang baik di anut dan di wariskan dari generasi ke generasi. Etika seringkali disebut dengan moral, padahal kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Moral berasal dari bahasa Latin “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “mores” yang memiliki arti kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan) dan menghindari hal-hal yang buruk.[1]

PERBEDAAN SISTEM KOMUNIKASI ANTARA MANUSIA DAN HEWAN

PERBEDAAN SISTEM KOMUNIKASI ANTARA MANUSIA DAN HEWAN

Perbedaan antara Bahasa Manusia dengan “komunikasi hewan” Ada beberapa hal yang membedakan antara bahasa (language) dengan tindakan-tindakan penyampaian pesan lainnya, seperti: tangisan bayi, gonggongan anjing dan tarian lebah atau yang biasa dikenal dengan “waggle dance”. Terdapat beberapa pendapat mengenai perbedaan-perbedaan ini. Yang pertama adalah yang disampaikan oleh Nan Bernstein Ratner dkk. Menurutnya ada beberapa karakteristik khusus yang hanya terdapat pada bahasa manusia. Karakteristik tersebut antara lain:
1.    Bahasa manusia memiliki hierarchical structure. Pesan (dalam bahasa manusia) dapat dibagi kedalam unit-unit analisis yang lebih kecil.
2.    Bahasa manusia memiliki sifat infinite creativity. Pengguna bahasa dapat meenghasilkan dan memahami kalimat-kalimat dalam bahasa mereka tanpa terbatas. Hal ini sangat berbeda dengan hewan yang hanya dapat menghasilkan bahasa secara terbatas.

UU PORNOGRAFI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 44 TAHUN 2008

TENTANG

PORNOGRAFI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :

a. bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moral, etika, akhlak mulia, dan kepribadian luhur bangsa, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghormati kebinekaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta melindungi harkat dan martabat setiap warga negara;
b. bahwa pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi semakin berkembang luas di tengah masyarakat yang mengancam kehidupan dan tatanan sosial masyarakat Indonesia;
c. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pornografi yang ada saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan hukum serta perkembangan masyarakat;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Undang-Undang tentang Pornografi;

Selasa, 08 Juli 2014

التَعْرِيْفُ بِالنَّفْسِ وَبِالْعَامَلِيْنِ فِي اْلمَدْرَسَةِ (Memperkenalkan Diri dan Profesi di Sekolah)



Materi Kelas VII Semester Ganjil
                التَعْرِيْفُ بِالنَّفْسِ وَبِالْعَامَلِيْنِ فِي اْلمَدْرَسَةِ
(Memperkenalkan Diri dan Profesi di Sekolah)

( أ )
رُشْدِي   : السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ.
مُحَمَّدُ   : وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ. مَنْ أَنْتَ ؟
رُشْدِي   : أَنَا طَالِبٌ جَدِيْدٌ فِى الصَّفِّ السَّابِعِ. هَلْ أَنْتَ طَالِبٌ جَدِيْدٌ اَيْضًا؟
مُحَمَّدُ   : لاَ، اَنَا طَالِبٌ قَدِيْمٌ فِى الصِّفِّ التَّاسِعِ. مَااسْمُكَ، يَا أَخِيْ ؟
رُشْدِي   : اِسْمِيْ رُشْدِي ، مَااسْمُكَ ؟
مُحَمَّدُ   : اِسمِْي مُحَمَّدُ.

Pancasila Dalam Konteks Masyarakat Islam


Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, Indonesia dan pancasila telah memberikan guidance soal relasi agama dan negarasecara universal. Artinya secara eksplesit maupun implicit, pancasila memang telah dirancang untuk mengakomodir segala problematika dan keberlangsungan hidup agama yang ada di Indonesia dalam kaitannya dengan kebangsaan dan kenegaraan, baik dimasa lampau atau kebutuhan saat ini dan masa yang akan datang[1].
Didalam pancasila telah disebutkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang berketuhanan yang maha Esa yang membuktikan bahwa setiap warga Negara andonesia pasti memiliki tuhan (Beragama) dimana salah satunya adalah agama Islam.

PANCASILA DAN PERKEMBANGAN KARAKTER

Pancasila menjadi falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia, yang mencerminkan jati diri dan wujud karakter bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai pancasila seharusnya menjadi pedoman utama dalam hal mendidik anak/para penerus bangsa, yaitu sebagai rujukan dalam pendidikan karakter yang baik. Pancasila yang bermartabatlah yang membentuk keagungan peradaban bangsa Indonesia.
Karakter juga dipahami sebagai seperangkat ciri perilaku yang melekat pada diri seseorang yang menggambarkan tentang keberadaan dirinya kepada orang lain. Penggambaran itu tercermin dalam prilaku ketika melaksanakan berbagai aktivitas apakah secara efektif melaksanakan dengan jujur atau sebaliknya, apakah dapat mematuhi hukum yang berlaku atau tidak (Kurtus, 2009). Walaupun prilaku sering dihubungkan dengan kebribadian, tetapi kedua kata ini mengandung makna yang berbeda. Kepribadian pada dasarnya merupakan sifat bawaan, sedangkan karakter terdiri atas prilaku-prilaku yang diperoleh dari hasil belajar.[1]

Cara Kerja Otak Kita ^_^



Pada hakikatnya, manusia memiliki dua pikiran yang bekerja secara paralel dna saling memengaruhi, yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Menurut Gunawan (dalam Riyadi, 2011), pengaruh pikiran sadar terhadap hidup manusia sebesar 12%, sedangkan pengaruh pikiran bawah sadar adalah 88%. Hal ini berarti bahwa pengaruh kekuatan sadar dan bawah sadar perbandingannya 1 : 9 dalam memengaruhi perilaku, pola piker, sikap dan kebiasaan setiap individu.
Pikiran sadar berfungsi sebagai penyimpan dan pengingat informasi dari setiap peristiwa dan perasaan individu dalam kurun waktu satu setengah jam terakhir (Jaya dalam Riyadi, 2011). Secara lebih rinci, pikiran sadar mempunyai lima fungsi, yaiotu analitikal, rasional, memori jangka pendek, kekuatan kehendak (will power) dan factor kritis (critical factor). Sementara itu, menurut Gunawan (dalam Riyadi, 2011), pikiran bawah sadar terdiri atas dua bagian, yaitu modern memory area (MA) dan primitive area (PA).

METODE HYPNOTEACHING



A.     Pengertian Hypnoteaching
Salah satu metode yang saat ini dikembangkan adalah metode pembelajaran hypnoteaching. Hypnoteaching adalah suatu metode pembelajaran yang dalam menyampaikan materi, guru memakai bahasa-bahasa bawah sadar yang bisa menumbuhkan ketertarikan tersendiri kepada anak didik.
Hypnoteaching berasal dari dua kata, yaitu hipnos dan teaching. Hipnos berarti mensugesti dan Teaching yang berarti mengajar. Jadi, hypnoteaching adalah usaha untuk menghipnotis atau mensugesti anak didik supaya menjadi lebih baik dan prestasinya meningkat.
Menurut Novian Triwidia Jaya 92010: 41), hypnoteaching adalah perpaduan pengajaran yang melibatkan pikiran sadar dan bawah sadar. Sementara itu, menurut Muhammad Noer (2010: 21), dalam hypnoteaching guru bertindak sebagai penghipnotis, sedangkan siswa sebagai suyet (orang yang dihipnotis). Dalam hal ini, guru tidak perlu menidurkan peserta didik dalam memberikan sugesti.

Selasa, 24 Juni 2014

PERANAN WAHYU DAN AKAL DALAM HUKUM ISLAM DAN KARATERISTIK HUKUM ISLAM



A.    Peranan Wahyu Dan Akal Dalam Hukumm Islam
Perbandingan wahyu dan akal termasuk perbandingan Allah dan Manusia. Kedua perbandingan ini sangat tidak seimbang, karena wahyu lebih unggul dibanding akal. Wahyu pasti benar dan akal belum tentu benar. Bila ada akal bertentangan dengan wahyu, maka kebenaran harus ditolak. Dalam arti lain, kebenaran akal yang sesuai dengan kebenaran wahyu lebih diterima daripada kebenran akal yang lain.
1.    Wahyu Diatas Akal
Perbandingan wahyu dan akal berarti pebandingan antara Allah dan manusia. Wahyu jauh lebih unggul dibanding akal. Wahyu pasti benar dan akal belum tentu benar. Jika ada pertentangan dengan akal maka kebenaran akal harus ditolak. Sebaliknya, apabila akal yang sesuai dengan kebenaran wahyu lebih diterima dari pada akal yang lain.
2.    Akal di Atas Wahyu
Asumsi dasar peranan akal adalah kesejahteraan manusia. Peranan penting dalam perubahan sosial adalah akal manusia. Maka dari itu peradaban dari setiap generasi berbeda.

Senin, 23 Juni 2014

TEKNIK PEMBELAJARAN BAHASA ARAB



A.  Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu usaha yang disengaja, bertujuan, dan terkendali agar orang lain belajar atau terjadi perubahan yang relatif menetap pada diri orang lain.[1] Usaha ini bisa dilakukan oleh seseorang atau suatu tim yang memiliki kemampuan dan kompetensi dalam merancang dan mengembangkan sumber belajar yang diperlukan. Pembelajaran tidak harus diberikan oleh pengajar saja, akan tetapi bisa juga dilakukan oleh setiap orang yang mampu dan memiliki kompetensi dalam mengembangkan suatu pelajaran. Tujuan pembelajaran ini adalah agar menciptakan suatu proses belajar yang bermanfaat, baik itu bermanfaat bagi siswa yang diajar ataupun bagi proses itu sendiri.
Menurut Wotruba and Wright (1975) pembelajaran ini disebut sebagai pembelajaran yang efektif. Ada tujuh indikator yang menunjukkan pembelajaran yang efektif, yaitu[2]:
1.    pengorganisasian yang baik,
2.    komunikasi secara efektif,
3.    penguasaan dan antusiasme dalam mata kuliah,
4.    sikap positif terhadap mahasiswa,
5.    pemberian ujiandan nilai yang adil,
6.    keluwesan dalam pendekatan pengajaran, dan
7.    hasil belajar mahasiswa yang baik.